|
Dinasti
Selama
masa Dinasti Ming, kekuatan politiknya
adalah dengan menghimpun sida-sida. Pada dasarnya,
di awal dinasti Cina, sida-sida digunakan sebagai
pengawal harem (tempat kediaman selir-selir) dan
istana. Kekaisaran Cina memiliki harem dengan
lebih dari 1.000 selir.
Para
pegawai sida-sida yang bekerja sebagai pengawal
harem, telah menjadi bagian dari sejarah. Karena
banyak dari mereka yang menempati berbagai posisi
pemerintahan kekaisaran dan bahkan dalam militer.
Saat
itu banyak keluarga Cina mengebiri salah satu
anak laki-lakinya, agar nantinya dapat bermanfaat
bagi istana kaisar. Walaupun bisa dikatakan bahwa
mereka tidak jantan lagi, tapi mereka justru dapat
berkonsentrasi agar bisa menjadi kaya dan berkuasa.
Pada awal abad ke-17, salah satu sida-sida, Wei
Zhongxian, berhasil menguasai Cina saat kaisar
sedang sibuk dengan haremnya. Sida-sida lainnya,
Zheng He, menjadi laksamada armada Cina,
dan berlayar melewati Laut Cina Selatan
dan Samudera Hindia, ke pantai timur Afrika.
Pada
awal abad ke-17, untuk pertama kalinya Jepang
mencoba mencampuri pengaruh politik Cina, bahkan
mencoba menaklukan semenanjung Korea. Walaupun
Jepang telah dipukul mundur, perang Cina telah
membawa istana kekaisaran di Beijing berada di
tepi kebangkrutan. Untuk mengatasinya, Dinasti
Ming menaikkan pajak. Tetapi hal ini menyebabkan
meletusnya pemberontak petani di berbagai wilayah.
Tentu saja ini melemahkan kedudukan istana kekaisaran.
Konflik
internal di Cina merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu
bagi orang-orang Manchu di sebelah utara Cina.
Seperti halnya orang-orang Mongol yang ada di
barat laut, orang-orang Manchu merupakan salah
satu masyarakat penting yang tinggal di luar Cina
dan dibatasi oleh Tembok Cina. Inilah gunanya
tembok Cina di awal abad ke-17.
Tetapi
kemudian, jenderal Cina yang bertugas menjaga
Tembok Cina, akhirnya memutuskan untuk
membiarkan tentara Manchu masuk. Sebenanrnya bukan
karena ia ingin merugikan kekaisaran. Tapi ia
ingin memanfaatkan pemberontak petani Cina yang
mengancam Beijing, untuk melawan pasukan Manchu.
Sehingga kedua musuh tersebut saling membinasakan.
Akhirnya
pasukan Manchu berhasil mengalahkan pemberontak
petani Cina. Dengan kekuatannya, mereka kembali
menyerang Beijing pada tahun 1644, dan
mendirikan Dinasti Qing.
Walaupun
mereka berhasil mengambil alih Beijing
pada tahun 1644, orang-orang Manchu
membutuhkan waktu selama 40 tahun untuk menaklukkan
seluruh Cina. Mereka menghadapi berbagai perlawanan,
khususnya di wilayah selatan Cina. Di sana ada
sejumlah kelompok masyarakat rahasia yang dibentuk
dengan tujuan utama melawan peraturan Manchu.
Walaupun bangsa Manchu telah mengalahkan mereka
sejak lama, tapi sisa -sisa dari masyarakat rahasia
ini masih tetap ada. Fokus mereka adalah mengadakan
perubahan dari terorisme politik dengan kriminal.
Mereka dikenal dengan sebutan "tiga serangkai".
Dinasti
Qing berakhir pada tahun 1911, setelah
berkuasa selama 258 tahun. Dinasti Qing
telah dapat memperluas daerah kekaisaran Cina
hingga ke Mongolia dan Tibet. Pemerintah juga
telah memperbesar irigasi untuk mendapatkan kemakmuran
baru. Dinasti Qing mengalami kemunduran terus-menerus,
mulai setengah periode pemerintahnya. Kemunduran
ini akibat dari keterlibatan kekuasaan imperial
barat.
Perdagangan
antara Cina dan Eropa dimulai sejak masa Kaisar
Romawi, yang disalurkan melalui kafilah-kafilah
yang melewati pusat Asia. Kafilah-kafilah itu
merupakan pedagang-pedagang yang berasal dari
Arab dan Turki, bukan dari Eropa. Marco Polo
adalah orang Eropa pertama yang mengunjungi Cina,
dan bukan dengan maksud melakukan perlawanan militer
maupun politik.
Tetapi
berubah pada abad ke-16, saat kapal-kapal Portugis
pertama kali merapat di pelabuhan Cina. Walaupun
tujuan kedatangan mereka bukan untuk menaklukan
militer Cina, tapi kapal-kapal mereka dilengkapi
dengan perlengkapan senjata militer, meriam, dan
serbuk mesiu yang diciptakan oleh Cina. Kapal-kapal
tersebut datang dengan tujuan untuk berdagang.
Walaupun pemerintahan Cina keberatan dengan perlengkapan
militer yang dibawa oleh kapal-kapal itu, tapi
akhirnya mereka mengijinkan Portugis untuk memulai
bisnisnya di Cina. Pada tahun 1557, Portugis
diijinkan untuk mengelola sebuah pertokoan di
Macao.
Setelah
orang-orang Potugis, kemudian datang Belanda
dan Inggris di pantai Cina, dengan tujuan
untuk berdagang. Para pedagang barat membeli produk-produk
Cina yang kebanyakan adalah barang-barang dari
perak. Produk-produk Cina, seperti teh,
sutra dan porselen yang dijual di Eropa, mengalami
keuntungan besar. Tetapi justru di Cina sendiri
tidak begitu besar keuntungannya. Namun orang-orang
Cina tidak menginginkan barang-barang Eropa yang
ditawarkan oleh para pedagang barat tersebut.
Melihat
keuntungan dagang yang besar dan pasar yang aman
di Cina, Inggris akhirnya memilih berdagang opium.
Persediaan opium didatangkan dari India. Kemudian
muncullah para pecandu yang setia membeli opium.
Orang
Inggris mulai menjual opium di Cina tahun 1773.
Hal ini berakibat bagi perekonomian Cina. Sebab
para pecandu yang jumlahnya jutaan ini, akan membayar
berapa pun untuk mendapatkan opium yang diimpor
dari Inggris.
Perdagangan
opium dilarang tahun 1800. Tetapi pada
tahun 1839, pernah dicoba untuk melanggar
larangan tersebut. Di Kanton, yang merupakan
pelabuhan utama Cina, banyak opium Inggris yang
disita. Alasan inilah yang membuat pemerintahan
Inggris memutuskan untuk melakukan perang di Cina.
Pada tahun 1840, selama perang yang dinamakan
Perang Opium ini, kapal meriam Inggris dipasang
menghadap ke arah Beijing. Akhirnya Cina menyerah,
dan perdagangan opium dimulai kembali. Puncak
dari semua kekalahan itu adalah Cina menyerahkan
Hongkong kepada Inggris. Beberapa tahun
kemudian, terjadi perang opium kedua, saat kekaisaran
Cina mencoba untuk memusnahkan opium Inggris.
Tetapi hasilnya sama saja, Cina mengalami kekalahan
juga.
Ketika
orang Inggris berhasil menyelundupkan bibit teh
Cina dan perkebunan teh telah dibuat di India
dan Ceylon, pedagang Inggris yang menjual
opium India di Cina tidak menarik perhatian lagi.
The menjadi barang ekspor Cina yang paling mahal.
Meskipun teh banyak berkembang di India dan Ceylon,
tapi mereka tidak bisa menukar opium India dengan
teh Cina.
Kekalahan
Cina pada Perang Opium tidak hanya melemahkan
hubungan internasional dengan negara lain, tapi
juga meruntuhkan kekaisaran di Beijing. Dinasti
Qing pun juga kehilangan hak kekuasaannya. Akhirnya
filosofi dan agama Cina dianggap mengakhiri dinasti
melalui pemberontakan.
Ada
dua pemberontakan besar dan sejumlah pemerontakan
lain yang terjadi setelah kegagalan Perang
Opium. Yang pertama adalah pemberontakan Taiping
yang berasal dari Kanton. Ada seorang bernama
Hong Xiuquan, yang menyatakan dirinya sebagai
adik Yesus Kristus. Dan anehnya, banyak
orang yang percaya kepadanya. Hong Xiuquan
menjadi agama Kristen yang militan dan termasuk
dalam jenis revolusi budaya. Cara-caranya hampir
sama dengan komunis Revolusi Budaya, yang
dikenalkan oleh Mao Zedong pada akhir tahun
1960-an.
Revolusi
budaya Taiping menyebabkan terbakarnya kuil
Buddha, Tao, Khong Hu Chu, dan menghancurkan altar-altar
dan patung-patung lainnya, serta kampanye rakyat
melawan perintah.
Pada
tahun 1851, ketika kekaisaran di Beijing
mencoba tindakan balasan, Hong Xiuquan
dengan mudah menyatakan perang. Taiping membentuk
tentara tetap dengan anggota lebih dari
satu juta pria dan wanita, dan mereka melakukan
gerakan ke utara dari Kanton ke kota-kota lainnya.
Tahun 1853, Taiping berhasil menaklukkan
ibu kota tradisional Cina Selatan Nanjing,
dan praktis hal ini menandakan ia telah menguasai
Cina Selatan.
Keadaan
sosial justru semakin parah. Opium, alkohol, dan
bahkan tembakau dinyatakan sebagai obat-obatan
ilegal, dan perbudakan, prostitusi dan perdagangan
wanita diluar perlindungan hukum. Hal ini berarti
ada suatu sistem masyarakat baru yang lahir di
Cina. Sistem ini merupakan kekuatan untuk bebas
dari korupsi dan kemunduran dari cara yang lama.
Kekaisaran
Qing di Beijing sudah tidak memiliki kekuasaan
amanat lagi, tapi amanatnya menjadi kekuatan barat.
Kekuatan
barat itu tidak menginginkan suatu sistem masyarakat
yang baru di Cina. Mereka juga tidak menginginkan
adanya kekuatan internal yang muncul dalam sistem
baru ini. Mereka lebih senang bila ada korupsi
dan menyucikan kaisar Qing.
Lalu
kekuatan barat ini mengatur tentara militer Qing
melawan Taiping, meskipun Taiping telah mengubah
Cina menjadi bangsa kristen. Kekuatan barat tidak
hanya mengirimkan penasihat militer dan persenjataan,
tetapi juga pasukan tentara tetapnya. Dan pada
tahun 1864, pemberontakan Taiping
telah berhasil dikalahkan dan Hong Xiuquan
bunuh diri.
Pemberontakan
kedua yang terjadi sewaktu Dinasti Qing
mengalami kemunduran, memiliki nama yang menarik,
yaitu Pemberontakan Petinju. Sehingga orang
barat lebih mengenalnya, karena memiliki nama
yang unik. Tapi dalam sejarah Cina, cerita tentang
pemberontakan itu terbatas. Petinju merupakan
salah satu masyarakat rahasia yang ada di Cina
pada saat itu. Mereka melakukan perlawanan dengan
baku hantam. Nama masyarakat itu adalah
"Petinju Bersatu dalam Kebenaran". Masyarakat
ini kurang diorganisir dengan baik. Mereka kurang
memiliki konsep yang matang, dan mereka sangat
anti orang asing dan anti kristen. Tapi mereka
percaya bahwa mereka tidak dapat dilukai oleh
oleh peluru senjata orang barat.
Selama
berabad-abad, orang-orang Cina tidak pernah senang
akan kedatangan orang-orang Eropa di negaranya.
Tetapi kebencian mereka terhadap orang barat berakhir
pada abad ke-19, setelah kekalahan Pemberontakan
Taiping.
Kekuatan
barat mengatur pemerintahan Cina melalui perjanjian-perjanjian.
Ketika orang-orang Cina memberontak menentang
perjanjian-perjanjian itu, mereka dengan mudah
dikalahkan oleh kekuatan militer barat. Mereka
harus membayar ganti kerugian yang besar, sehingga
perjanjian itu dianggap tidak memadai. Kekuatan
barat berkuasa saat pelabuhan-pelabuhan Cina terbuka
bagi perdagangan internasional. Mereka menghasut
sistem yuridikasi ekstrateritorial bagi orang
asing yang hanya dapat diadili di negaranya, tak
peduli apa kejahatan mereka di Cina.
Cina
juga kehilangan kekuasaan raja di atas wilayah
negara tetangga. Perancis menjadikan Indocina
sebagai koloninya, dan Jepang melawan Cina keluar
Korea dan menduduki Taiwan.
Sebelum
Pemberontakan Taiping berakhir, tepatnya
tahun 1861-1908, Cina diperintah oleh Kaisar
Wanita Janda Permaisuri Wu Cixi, setelah
kematian kaisar Qing. Ia bukanlah pemimpin yang
berbakat, tapi ia mampu berkuasa selama 47 tahun.
Kaisar
wanita ini meninggal pada tahun 1908, dan
digantikan oleh anaknya yang berusia dua tahun,
Puyi. Karena diperintah oleh orang yang
tidak dikenal, maka pemberontakan terjadi lagi
di beberapa wilayah Cina. Pemberontakan yang paling
sukses di Wuhan, oleh seorang tabib dan
revolusioner Sun Yatsen.
back
to content page
|