|
Danau
Sebu
Di
pinggir negara Philipina terdapat Danau Sebu (365 hektar)
yang merupakan danau yang menakjubkan dan sebuah perjalanan
yang indah pagi para pecinta alam. Perjalanan melalui
ketinggian sekitar 1000 meter, dan keadaan iklmnya cukup
dingin. Danau Sebu mengairi Lembah Allah yang subur.
Surallah terletak di dekat danau Sebu dan merupakan
kotamadya utama yang dihuni oleh suku Tibolis
dan terkenal dengan kerajinan logammnya. Suku Tibolis
merupakan penduduk mayoritas sementara yang lainya adalah
suku Ilonggo. Di Surallah tidak tersedia penginapan.
Jalan antara Koronadal dan Surallah cukup bagus. Perjalanan
terakhir dari Surallah kembali ke Koronadal sekitar
pukul 17:00.
beberapa Jeepney dari Surallah ke danau Sebu berangkat
pada siang hari meskipun penumpang penuh. Jalan menuju
ke danau cukup berat. Penginapan di danau tersedia
di Rumah Tamu Kotamadya. Rumah Tamu ini memiliki 2 tempat
tidur dengan biaya 25 Peso, dilengakpi dengan dapur
jika ingin menginap, penginapan pribadi telah di sediakan
oleh Walikota denga harga yang sama.
Diakhir tahun 80 an, banyaknya emas di lahan-lahan
Tiboli telah membuat kebanyakan dari suku Tibolis kaya.
Tambang emas Tiboli dulu dan hingga sekarang terdapat
di lahan yang hanya seluas 24 hektar dari seluruh luas
wilayah yang mencapai 5,224 hektar yang di diawasi oleh
Kantor Komunitas Kebudayaan Dibagian Selatan. Seperti
yang dilaporkan oleh Manuel Baliao dalam Tanya Jawab
Harian Philipina pada tanggal 29 Juni tahun 1991, hanya
35 dari 106 terowongan yang telah digali dan beropersi
penuh pada saat itu.
Dibandingkan dengan tempat tambang emas Gunung Diwalwal
di propinsi Davao, tempat tambang emas Tiboli diawasi
lebih baik walaupun dikedua daerah tersebut kehadiran
beberapa perwakilan pemerintah yang efektif, menurut
Manuel Baliao, masih di perlukan. Perbedaan di Tibolis
di buat oleh kepala Pusat Pelayanan Kantor Komunitas
Kebudayaan Dibagian Selatan (OSCC) Tiboli dan Walikota
Tiboli, Dad dan Mai Tuan bersaudara berturut-turut mengawasi
tambang tersebut.
Setelah Tuans di dituduh dalambeberapa laporan di koran
mengenai pengambil alihan kendali terhadap beberapa
operasi pertambangan dengan cara Mafia, walikota
Tuan melaporkan Manuel Balio:" Saya telah memiliki
dana untuk menguasainya, tetapi hanya dalam pengertian
bahwa saudara-saudra saya dan saya telah memiliki hak
untuk memegang beberapa posisi yang berpengaruh yang
mengizinkan kami untuk meminta beberapa orang untuk
mengerjakan apa yang kami minta dengan mematuhi beberapa
peraturan yang menyangkup dalam segala aspek tentang
beberapa kegiatan pertambangan."
Dad Tuan dari OSCC, yaitu seorang pilot helikopter terlatih
Amerika Serikat mengatakan : " Kami adalah pelayan
masyarakat bukan monster. Kami ingin memelihara peraturan
dan disiplin disini. Selain itu, kami tidak mencampuri
urusan-urusan masyarakat yang datang untuk melakukan
beberapa bisnis. Apa yang sedang kamu lihat adalah perusahaan
yang bebas dalam melakukan usahanya."
Selain Dan dan Mai Tuan, saudara Fludi
Tuan adalah seorang Presiden Asosiasi Perkembangan
Pertambangan Tiboli, sementara yang lainnya yaitu Yani
Tuan memimpin Asosiasi Para Pembeli Emas Terpadu
Tiboli.
Manuel Baliao melaporkan bahwa tambang emas telah mencapai
puncaknya pada pertengahan tahun 1989, dan memungkinkan
bagi kota Tiboli (sebuah pembinaan administratif yang
melingkari Surallah dan disekitar perkampungan) untuk
mengungguli semua kota Cotabato Selatan lainnya dalam
pengumpulan total pajak. Pada tahun 1990. lebih
dari 4 juta Peso telah dihasilkan.
Pada tahun 1989 dan 1990, dinas pemerintahan memperkirakan
total produksi emas pada 1,704 kilo dihargai sebanyak
3,4 milyar Peso. Disebabkan tidak adanya Bank
Sentral yang mengesahkan tempat pembelian emas di Tiboli,
maka diyakini bahwa sebahagian besar dari emas Tiboli
yang bernilai tinggi telah dimonolopi oleh para pedagang
emas ilegal dan diseludupkan ke luar negara. Asosiasi
Para Pembeli Emas dibawah kepemimpinan Yani Tuan, menurut
beberapa dakwaan telah mengganggu cabang Bank Sentral
di Davao untuk mendirikan tempat pembelian di Tiboli
tetapi tidak berfaedah.
Seperti yang telah dijelaskan oleh Manuel Baliao, bahwa
perkembangan telah diwujudkan kedalam statistik yang
sangat menarik. Setidaknya terdapat 10 keluarga Tiboli
telah menjadi jutawan dan lebih dari ratusan
keluarga Tiboli sekarang ini bisa diklasifikasikan ke
dalam ekonomi kelas menengah ke atas.
Dilaporkan bahwa 50 persen penduduk telah mendaftar
masuk sekolah di kota Tiboli yang dapat dijelaskan
bahwa kenyataannya bahwa lebih banyak dari keluarga-keluarga
Tiboli saat ini mampu mengirimkan anak-anak mereka ke
sekolah-sekolah yang lebih baik yang terdapat di kota.
Kemungkinan besar pengaruh yang sangat kuat yang dibawa
oleh pertambangan emas tersebut ialah telah meningkatnya
status sosial sebahagian penduduk Tiboli dari ketergantungan
dan penindasan menjadi mandiri dan mulia.
Manuel Baliao telah mengutip perkataan Walikota Tuan
yaitu :" Untuk pertama sekali, masyarakat Tibolis
dapat menjaga diri mereka sendiri tanpa tergantung kepada
para penderma dan pertolongan dari pemerintah nasional.
Biarkan saja para pembual kami, termasuk mereka yang
disebut kelompok-kelompok berorientasi, fikirkanlah
hal tersebut.
Kebalikan dari beberapa dugaan tentang para pengkritik,
Tuan berkata menurut Manuel Baliao, bahwa tambang emas
tidak dibuat untuk merusak kebudayaan Tiboli: "Tibolis
akan meyelamatkan nyawa, berkembang dan berkilau seperti
emas yang ditemukan di bawah tanah-tanah mereka,"
seperti yang diakui oleh pemimpin spiritual dan politik
mengenai 80,000 masyarakat suku Tiboli yang tinggal
di Propinsi Cotabato Selatan.
Lebih Lanjut Mengenai Mindanao Selatan :
- Geografi
- Penduduk
- Kota Cotabato
- Koronadal
- Kota Jendral Santos
- Digos
- Kota Davao
- Pulau Samal
- Taman Nasional Gunung Apo
- Tagum
- Festifal
- Transportasi
|