|
Propinsi Batanes
Propinsi
Batanes merupakan sekelompok pulau kecil yang menjadi
tempat tujuan yang besar dan hebat. Terletak di Utara
Luzon, mereka membentuk bagian dipaling utara kepulauan
ini dengan pulau Batan (yang luasnya 35 kilometer persegi),
Itbayat (95kilometer persegi), Sabtang (41kilometer persegi),
dan 7 pulau kecil yaitu : Dequey, Siayan, Mabudis, Ibuhos,
Diogo, Pulau Utara, dan Y'ami, yang terletak diujung bagian
paling utara Philipina. Karena tempat ini merupakan tempat
yang banyak anginnya, maka Batanes ditandai sebagai Rumah
Angin.
Menuju ke selatan, lebih dekat dengan daratan, terdapat
beberapa pulau Babuyan, termasuk pulau Babuyan,
Calayan, Camiguin, Fuga, dan Dalupiri. Walaupun secara
politik sekelompok pulau ini masih dibawah pemerintahan
Batanes tetapi ada sedikit hubungan antara dua kelompok
pulau yaitu antara pulau-pulau Babuyan dan pantai utara
Luzon. Tidak terdapat kota maupun penduduk di pulau-pulau
Babuyan.
Penduduk asli propinsi Batanes adalah suku-suku Ivatan,
tetapi kebanyakan dari suku ivatans ini sekarang menjadi
mestizos yaitu suku yang memiliki nenek moyang yang berasal
dari conquistadores dan Formosans Spanyol. Beberapa waktu
baru-baru ini, sejumlah besar suku Ilocanos telah
berimigrasi ke Batanes, yang membuat suku Ilocanos menjadi
sebuah kelompok suku terbesar dan kemudian bahasa merekapun
digunakan secara luas. Bagaimanapun, penduduk asli tetap
terus berbicara dengan menggunakan bahasa Ivatan
dan dialek-dialek suku lainnya yang masih kedengaran aneh
bagi beberapa perkampungan dan pulau yang berbeda.
Meskipun beberapa suku Ivatan masih mempunyai kepercayaan
animisme, namun mayoritas dari penduduk Batanes beragama
Katholik Romawi. Anda dapat menemukan beberapa gereja
Spanyol tua dari beberapa abad yang lalu di beberapa kota.
Sto. kependetaan Dominican masih terus memiliki pengaruh
yang kuat.
Sekelompok pulau secara resmi ditemukan di bagian Barat
oleh penjelajah Inggris William Drapier pada tanggal
16 Agustus pada tahun 1687. Bagaimanapun, Sebelumnya pada
tanggal 4 Oktober 1598, kapal Spanyol Almirante
yang dikirim oleh Gubernur Dasmarinas ke Kamboja telah
mendarat di Pulau Calayan. Meriam yang dibawa oleh kapal
tersebut di pelihara.
Ibukota propinsi Batan yaitu Basco, diberi nama
tersebut untuk mengenang Gubernur Jendral Spanyol, Jose
Basco y Vargas, yang telah membawa dan menjadikan
beberapa pulau dibawah peraturan Spanyol pada tahun 1788.
Suku Ivatans awalnya mengabaikan Spanyol dan tetap berpegang
teguh pada aturan perkampungan gunung mereka hingga datang
ancaman dari angkatan bersenjata Spanyol, Gubernur
Joaquin del Castillo memaksa para penduduk asli untuk
pindah ke dataran rendah (turun gunung) pada tahun 1790
dan menyetujui adanya perubahan dan penampilan ala barat.
Diakhir abad beberapa suku Ivatans pindah ke Manila untuk
mencari kerja atau mengikuti kuliah. Mereka yang kembali
membawa ide-ide revolusioner. Suku Ivatan Katipuneros
bergabung dengan militer setempat pada bulan September
1898 dan membunuh Gubernur Fortea dengan demikian
berakhirlah peraturan Spanyol.
Amerika mengambil alih pada tahun 1899, dengan
meresmikan sekolah umum untuk memperbaiki komunikasi dengan
pos laut umum dan telegrap pada tahun 1920, dan juga meresmikan
sebuah jalur udara pada tahun 1930 an dan membangun beberapa
jalan raya untuk menggantikan jalan-jalan yang dibuat
oleh Spanyol.
Beberapa pulau Batanes jauh terletak diluar Laut
China yang dari Y'ami seseorang dapat melihat Taiwan
(pulau Formosa). Masyarakat mengatakan bahkan sejumlah
pulau Batanes adalah milik Taiwan pada suatu saat.
Walaupun jarak laut antara Y'ami dan Itbayat kira-kira
sama seperti jarak antara Itbayat ke Basco, Pulau-pulau
disebelah utara Itbayat jarang sekali di huni oleh penduduk
dan antara mereka bebas tanpa aturan dan disana juga tidak
ada transportasi atau komunikasi yang tetap diantara
mereka.
Untuk menggambarkan daerah terpencil Y'ami, Para
penduduk lokal menghubungkan cerita tentang anak muda
yang berasal dari Y'ami yang diperintah dan diatur oleh
kakak-kakaknya untuk menikahi seorang gadis yang berasal
dari Itbayat yaitu sebuah pulau yang lebih besar yang
terletak di sebelah selatan yang secara relativ menghubungkan
ke Basco, yaitu sebuah ibukota. Untuk mendapatka gadis
itu, pemuda tersebut pertama sekali harus pergi ke Taiwan,
kemudian terbang ke Manila, kemudia ke Basco; dari sana
kurang lebih bisa menggunakan boat yang tetap menuju ke
Itbayat, setelah sampai pemuda itu menikahi tunangannya
dan kemudian membawa gadis itu bersamanya dalam perjalanan
yang sama. Rute perjalanan tersebut dilalui dengan patuh
oleh pemuda tersebut yang merupakan perjalan paling sederhana
dan sangat pasti.
Pengasingan beberapa pulau ini menjadikan jarak dan beberapa
tentara telah melakukan imigrasi besar-besaran.
Pada tahun 1980 penduduk propinsi Batanes hanya berjumlah
12,000 jiwa yang hanya bertambah 6% pada tahun
1948. Diperkirakan pada tahun 1989 penduduk setempat berjumlah
14,000 jiwa yang merupakan penambahan 6% dari perkiraan
tahun 1988. Dalam 54 orang/kilometer persegi, kepadatan
penduduk jauh di bawah rata-rata nasional yaitu 122 orang/kilometer
persegi. Sensus nasional pada tahun 1990 membuat
angka-angka penduduk berikutnya untuk enam kotamadya yang
ada dipropinsi tersebut (x 1000) : Basco 6, Itbayat 3,
Ivana 1, Mahatao 2, Sabtang 2, Uyugan 1.
Beberapa generasi muda yang berhasrat untuk meninggalkan
kota besar, jika tidak ke Manila lalu ke Tuguegarao. Bahkan
jika mereka tidak bisa pergi sejauh itu, setidaknya mereka
ingin pergi ke Basco, yaitu sebuah ibukota propinsi. Memang,
tidak ada televisi, teater filem maupun pusat perbelanjaan,
tetapi setidaknya terdapat pertunjukan video, mereka memiliki
listrik hingga pukul 23:30 dan bahkan lebih lama lagi
jika ini sebuah pertunjukan video pada malam hari, dan
disana juga terdapat sejumlah toko sari-sari kecil yang
berisi barang-barang yang bagus dari Manila, dan juga
sebuah pilihan untuk mendapatkan toko roti dan rumah makan.
Ibukota ini juga merupakan lokasi dari fasilitas-fasilits
pendidikan yang terbesar di propinsi ini, termasuk Sto.
Dominican College (12), yang berdekatan dengan gereja
Basco. Juga dekat dengan gereja yang terletak di rel yang
besar di daerah ini dimana Barangay San Antonio berawal,
yang merupakan bangunan yang luas di sekolah tinggi "Nasional",
dua sekolah dasar dan Sekolah untuk Kesenian dan Perdagangan
(15).
Masyarakat Batanes dengan mengejutkan mereka tertarik
dengan pendidikan. Tentu saja, untuk mencari pekerjaan
diluar daerah surga mereka sendiri, mereka harus berkualitas.
Tetapi bukan itu saja. Pendidikan juga memberikan kepada
mereka sesuatu untuk dilakukan. Walhasil, masyarakat Batanes
sangat membanggakan angka kepintaran mereka sebanyak 93
%. Dan bahkan nenek-nenek mereka telah mengambil kursus-kursus
setingkat universitas yang ditawarkan melalui sekolah
malam.
Pada hari-hari penerbangan beberapa penduduk berjalan-jalan
ke taman -seperti bandara yang terletak di ujung kota,
mereka hanya ingin bermasyarakat dan mengenal salah satu
dari daftar-daftar tempat piknik dengan payung-payung
rerumputan cogonnya dan menunggu pesawat tiba, walaupun
disaat mereka tidak mengharapkan para pengunjung.
Dikarenakan pulau-pulau kecil itulah setiap orang saling
mengenal dengan yang lainnya, pada kenyataannya hampir
setiap orang saling berhubungan, para pendatang baru
dengan cepat dapat dibedakan dan diawasi, khususnya pada
saat kedatangan mereka di bandara. Biasanya ada seseorang
yang cukup berani mendekati pengunjung. Jika tidak, satu
pertanyaan saja sudah merupakan syarat untuk bersahabat
dan beramah tamah, yang mana kemudian masyarakat tersebut
menawarkan pertolongan ataupun pendamping.
Walaupun ini sedikit memiliki kekurangan yaitu mereka
saling mengetahui antara bisnis yang satu dengan bisnis
yang lainnya, kota kecil yang memiliki keakraban ini telah
menolong dan menjaga suku Batanes dari kejahatan yang
masih bebas dan sering terjadi. Walaupun pemakaian alkohol
relatif tinggi , khususnya selama musim hujan yang panjang,
pada dasarnya masyarakat setempat tetap " Jujur
dan bekerja keras".
Rumah-rumah jarang terkunci terkecuali selama terjadinya
angin taufan, dan tempat ini aman untuk berjalan seorang
diri pada malam hari. Umumnya masyarakat disini tidur
pada jam 22:00, sebagian dikarenakan hari mereka dimulai
pada pukul 5:00, dan sebagiannya lagi dikarenakan bekerja
diluar Basco, listrik ada hanya dari pukul 18:30 hingga
21:30.
Walaupun pendapatan mereka jauh dibawah rata-rata
standart nasional, namun tidak satupun dari mereka yang
mati kelaparan atau tidak memiliki rumah. Mereka lebih
baik dari pada para penduduk kota yang miskin (yang memiliki
gaji lebih tinggi) karena masyarakat Batanes masih memiliki
lahan, dan dapat menggantung diri dari lahan tersebut
untuk penghidupan mereka. Sebenarnya ini membuat mereka
bebas merdeka - merdeka dalam arti bebas dari biaya
makanan dan kediaman yang tinggi yang sering membelenggu
kehidupan bagi mereka yang hidup di kota tanpa tanah perkebunan.
Namun beberapa penduduk setempat merasa sedih dalam mengatasi
kehidupan di Batanes yang keras. Disana transportasi
kendaraan bermotor terbatas; beberapa tempat tidak memiliki
fasilitas air leding dan toilet didalam rumah, dan tidak
juga telpon, televisi maupun kehidupan malam (0).
Tetapi mereka mengganggap ada hal yang lebih penting,
yaitu disana tidak terdapat NPA (pemberontakan), keresahan
sosial, polusi industri, kekurangan air juga tidak terdapat
masalah yang berarti yang membuat kehidupan menjadi lebih
mudah, tidak seperti kehidupan di kota yang bahkan lebih
keras. Dan jika mereka pernah mengalami polusi udara di
Manila dan lalu lintas yang sangat sibuk, agaknya mereka
akan merasa gembira dengan kebebasan mereka berjalan diatas
jalan (daerah) mereka sendiri yang bebas dari itu semua.
Selama serangan-serangan mendadak di Manila, Angkatan
Kepolisian Philipina setempat (17) hanya menghabiskan
hari-hari mereka seperti hari-hari biasa yang selalu mereka
lakukan seperti : bermain bola basket dan tidur-tiduran.
Penjagaan keamanan dan menentramkan Batanes memberikan
mereka sedikit tugas.
Ciri khas politik kota-kota kecil di Batanes terjadi
sebelum pemilihan gubernur. Sebagai pengganti panggilan
nama yang biasa dan fitnahan yang datang, beberapa kandidat
di Batanes datang dari rumah ke rumah secara bersama-sama
untuk menemui para pemberi suara.. Masing-masing kandidat
menjelaskan perannya, setelah itu, seorang kandidat mengundang
pemilih suara yang memilih lawannya dengan baik dan ramah,
begitu juga kandidat lainnya melakukan hal yang sama.
Tentu saja, kenyataannya bahwa para kandidat yang bersangkutan
memiliki sesuatu untuk dikerjakan yang berhubungan dengan
genelitas mereka; keluarga Castillejos telah memegang
kekuasaan secara politik untuk beberapa generasi.
Bertani, memancing, berternak lembu, babi, serta peternakan
lainnya dan beberapa unggas menjadi sumber utama penghidupan
bagi masyarakat Batanes. Bawang putih dan lembu menjadi
export utama.
Walaupun kesanggupan mereka hanya sedikit untuk mengekspor
lembu, namun hampir setiap keluarga menanam bawang putih
sebagai sebuah tanam panen yang menghasilkan. Harga bawang
putih yang tinggi di Philipina telah membuat bisnis ini
menjadi bisnis yang menguntungkan.
Pada Awal pemungutan hasil panen bawang putih yang berlangsung
pada bulan Pebruari sampai April, harga bawang
putih sangat jatuh dari harga yang tinggi dari 195 peso/kilogram
turun sampai 30 peso/kilogram. Hasil panen tersebut diangkut
dari Batanes ke Luzon oleh sebuah kapal tangki yang mendarat
yang digunakan untuk pengangkutan muatan antar pulau.
Untuk memenuhi lonjakan permintaan akan bawang putih,
banyak bagian-bagian lahan yang luas dirubah menjadi lahan
untuk bawang putih yang biasanya dipelihara untuk memperoleh
hasil panen yang dapat memenuhi kebutuhan hidup. Seperti
para petani bawang putih yang datang dari utara jauh di
kepulauan, mereka juga percaya dan yakin bahwa sebenarnya
terdapat bawang putih import illegal yang datang
dari Taiwan, dan menduga adanya kompetisi yang tidak wajar
dengan para petani lokal.
Apakan ini benar atau tidak, namun produksi bawang putih
di Batanes telah meningkat begitu pesat, dan kapal tangki
sekali-sekali membuat suatu perjalanan khusus keluar pulau
Batan menuju ke Itbayat hanya untuk mengambil muatan mereka
saja.
Perdagangan bawang putih yang hasil panennya untuk memenuhi
kebutuhan hidup telah menempati urutan kedua dalam produksi
tanaman panen akar-akaran seperti singkong. Bersama-sama
dengan beras, mereka (bawang putih) juga merupakan bahan
pokok yang utama yang dibutuhkan untuk persediaan
selama musim badai (topan) ketika angkutan-angkutan umum
yang datang dari luar daerah tidak dapat masuk dan mendarat.
Ini juga ancaman yang membuat penduduk awam lebih bergantung
pada makanan kaleng daripada sebelumnya dan produk-produk
impor lainnya yang tiba di Batanes meskipun harga ecerannya
di Manila dua kali lipat lebih mahal, dengan demikian
mereka dengan cepat menghabiskan dua kali lipat pendapatan
extra yang diperoleh dari peralihan panen.
Dalam peningkatan hasil panen bawang putih dan hasil panen
akar-akaran, banyak keluarga menanam beberapa sayur-sayuran
dan buah-buahan seperti nenas, pisang, pepaya,
nangka, semangka dan bahkan jeruk. Tetapi walaupun buah-buahan
ini dapat tumbuh dengan baik di pulau-pulau ini, namun
produksi perniagaan akan sangat berisiko, seperti
seluruh panen akan dengan mudah hilang dan rusak hanya
dengan sekali badai yang datang menghantam setiap tahun.
Lebih lanjut lagi, dikarenakan oleh tuntutan pertanian
yang cukup banyak di lahan tersebut tanpa perlengkapan
nutrisi yang cukup , maka tanah tersebut telah menjadi
kurang menghasilkan. Masyarakat mengatakan bahwa ubi rambat
dulunya bisa tumbuh seukuran semangka. Menurut dugaan
bahwa tanah-tanah di Bureau telah mengambil langkah-langkah
untuk memperbaiki dan memelihara kesuburan tanah.
Sebahagian dari lahan tersebut telah menjadi subur, laut-laut
kaya akan sumber-sumber kekayaan lautnya. Bukti
dari ini adalah banyaknya dengan apa yang disebut Taiwanese
junks, Para pemukat modern yang kuat berhilir mudik di
laut yang terbuka pada siang dan malam hari dan mendapatkan
hasil tangkapan yang banyak.
Dengan perbandingan yang sangat mencolok, para nelayan
Batanes setempat dengan kapal-kapal sederhana mereka yang
terbuat dari kayu dan jala-jala kecil bisa menempuh bahkan
sampai beberapa kilometer yang dilakukan untuk
melakukan tangkapan untuk sekedar menyambung hidup. Memancing
adalah hal yang sangat sulit bagi para penduduk lokal
disebabkan karena mereka hanya memiliki kapal-kapal kecil
yang hanya bisa mengemudikan kapal-kapal mereka dengan
aman di kanal-kanal diantara pulau-pulau tersebut. Sementara
diluar kanal-kanal tersebut angin membuat laut menjadi
sangat ganas.
Selanjutnya Mengenai Batanes :
- Iklim
- Pulau Batan
- Pulau Sabtang
- Pulau Itbayat
- Penginapan
- Komunikasi
- Transportasi
|