pt.asiamaya dotcom indonesiaH O M Etravel / wisata
Pandu Asiamap / peta indonesiaMaps Jakarta with PhotosSingapore Streets AtlasIndonesia GuideAsia GuideTravel AsiaHotel BookingsApartments in Jakartadictionary / kamusIndonesia - EnglishVIP / Figur IndonesiaBintang IndonesiaTokoh IndonesiaInternational FiguresBintang IndiaBintang MeksikoBintang MalaysiaBintang MandarinInternational CelebritiesSports / OlahragaPemain SepakbolaKlub Sepakbola
Business / BisnisPublic CompaniesHealth / KesehatanBerita KesehatanJamu InformationNutrisiLaw / HukumKonsultasi HukumUndang-undangBerita HukumEducation / PendidikanPerguruan TinggiDirectory / DirektoriIndonesia ISPPostal RatesCompany Profile

Philipina


Propinsi Batanes


Propinsi Batanes merupakan sekelompok pulau kecil yang menjadi tempat tujuan yang besar dan hebat. Terletak di Utara Luzon, mereka membentuk bagian dipaling utara kepulauan ini dengan pulau Batan (yang luasnya 35 kilometer persegi), Itbayat (95kilometer persegi), Sabtang (41kilometer persegi), dan 7 pulau kecil yaitu : Dequey, Siayan, Mabudis, Ibuhos, Diogo, Pulau Utara, dan Y'ami, yang terletak diujung bagian paling utara Philipina. Karena tempat ini merupakan tempat yang banyak anginnya, maka Batanes ditandai sebagai Rumah Angin.

Menuju ke selatan, lebih dekat dengan daratan, terdapat beberapa pulau Babuyan, termasuk pulau Babuyan, Calayan, Camiguin, Fuga, dan Dalupiri. Walaupun secara politik sekelompok pulau ini masih dibawah pemerintahan Batanes tetapi ada sedikit hubungan antara dua kelompok pulau yaitu antara pulau-pulau Babuyan dan pantai utara Luzon. Tidak terdapat kota maupun penduduk di pulau-pulau Babuyan.

Penduduk asli propinsi Batanes adalah suku-suku Ivatan, tetapi kebanyakan dari suku ivatans ini sekarang menjadi mestizos yaitu suku yang memiliki nenek moyang yang berasal dari conquistadores dan Formosans Spanyol. Beberapa waktu baru-baru ini, sejumlah besar suku Ilocanos telah berimigrasi ke Batanes, yang membuat suku Ilocanos menjadi sebuah kelompok suku terbesar dan kemudian bahasa merekapun digunakan secara luas. Bagaimanapun, penduduk asli tetap terus berbicara dengan menggunakan bahasa Ivatan dan dialek-dialek suku lainnya yang masih kedengaran aneh bagi beberapa perkampungan dan pulau yang berbeda.

Meskipun beberapa suku Ivatan masih mempunyai kepercayaan animisme, namun mayoritas dari penduduk Batanes beragama Katholik Romawi. Anda dapat menemukan beberapa gereja Spanyol tua dari beberapa abad yang lalu di beberapa kota. Sto. kependetaan Dominican masih terus memiliki pengaruh yang kuat.

Sekelompok pulau secara resmi ditemukan di bagian Barat oleh penjelajah Inggris William Drapier pada tanggal 16 Agustus pada tahun 1687. Bagaimanapun, Sebelumnya pada tanggal 4 Oktober 1598, kapal Spanyol Almirante yang dikirim oleh Gubernur Dasmarinas ke Kamboja telah mendarat di Pulau Calayan. Meriam yang dibawa oleh kapal tersebut di pelihara.

Ibukota propinsi Batan yaitu Basco, diberi nama tersebut untuk mengenang Gubernur Jendral Spanyol, Jose Basco y Vargas, yang telah membawa dan menjadikan beberapa pulau dibawah peraturan Spanyol pada tahun 1788. Suku Ivatans awalnya mengabaikan Spanyol dan tetap berpegang teguh pada aturan perkampungan gunung mereka hingga datang ancaman dari angkatan bersenjata Spanyol, Gubernur Joaquin del Castillo memaksa para penduduk asli untuk pindah ke dataran rendah (turun gunung) pada tahun 1790 dan menyetujui adanya perubahan dan penampilan ala barat.

Diakhir abad beberapa suku Ivatans pindah ke Manila untuk mencari kerja atau mengikuti kuliah. Mereka yang kembali membawa ide-ide revolusioner. Suku Ivatan Katipuneros bergabung dengan militer setempat pada bulan September 1898 dan membunuh Gubernur Fortea dengan demikian berakhirlah peraturan Spanyol.

Amerika mengambil alih pada tahun 1899, dengan meresmikan sekolah umum untuk memperbaiki komunikasi dengan pos laut umum dan telegrap pada tahun 1920, dan juga meresmikan sebuah jalur udara pada tahun 1930 an dan membangun beberapa jalan raya untuk menggantikan jalan-jalan yang dibuat oleh Spanyol.

Beberapa pulau Batanes jauh terletak diluar Laut China yang dari Y'ami seseorang dapat melihat Taiwan (pulau Formosa). Masyarakat mengatakan bahkan sejumlah pulau Batanes adalah milik Taiwan pada suatu saat.

Walaupun jarak laut antara Y'ami dan Itbayat kira-kira sama seperti jarak antara Itbayat ke Basco, Pulau-pulau disebelah utara Itbayat jarang sekali di huni oleh penduduk dan antara mereka bebas tanpa aturan dan disana juga tidak ada transportasi atau komunikasi yang tetap diantara mereka.


Untuk menggambarkan daerah terpencil Y'ami, Para penduduk lokal menghubungkan cerita tentang anak muda yang berasal dari Y'ami yang diperintah dan diatur oleh kakak-kakaknya untuk menikahi seorang gadis yang berasal dari Itbayat yaitu sebuah pulau yang lebih besar yang terletak di sebelah selatan yang secara relativ menghubungkan ke Basco, yaitu sebuah ibukota. Untuk mendapatka gadis itu, pemuda tersebut pertama sekali harus pergi ke Taiwan, kemudian terbang ke Manila, kemudia ke Basco; dari sana kurang lebih bisa menggunakan boat yang tetap menuju ke Itbayat, setelah sampai pemuda itu menikahi tunangannya dan kemudian membawa gadis itu bersamanya dalam perjalanan yang sama. Rute perjalanan tersebut dilalui dengan patuh oleh pemuda tersebut yang merupakan perjalan paling sederhana dan sangat pasti.

Pengasingan beberapa pulau ini menjadikan jarak dan beberapa tentara telah melakukan imigrasi besar-besaran. Pada tahun 1980 penduduk propinsi Batanes hanya berjumlah 12,000 jiwa yang hanya bertambah 6% pada tahun 1948. Diperkirakan pada tahun 1989 penduduk setempat berjumlah 14,000 jiwa yang merupakan penambahan 6% dari perkiraan tahun 1988. Dalam 54 orang/kilometer persegi, kepadatan penduduk jauh di bawah rata-rata nasional yaitu 122 orang/kilometer persegi. Sensus nasional pada tahun 1990 membuat angka-angka penduduk berikutnya untuk enam kotamadya yang ada dipropinsi tersebut (x 1000) : Basco 6, Itbayat 3, Ivana 1, Mahatao 2, Sabtang 2, Uyugan 1.

Beberapa generasi muda yang berhasrat untuk meninggalkan kota besar, jika tidak ke Manila lalu ke Tuguegarao. Bahkan jika mereka tidak bisa pergi sejauh itu, setidaknya mereka ingin pergi ke Basco, yaitu sebuah ibukota propinsi. Memang, tidak ada televisi, teater filem maupun pusat perbelanjaan, tetapi setidaknya terdapat pertunjukan video, mereka memiliki listrik hingga pukul 23:30 dan bahkan lebih lama lagi jika ini sebuah pertunjukan video pada malam hari, dan disana juga terdapat sejumlah toko sari-sari kecil yang berisi barang-barang yang bagus dari Manila, dan juga sebuah pilihan untuk mendapatkan toko roti dan rumah makan.

Ibukota ini juga merupakan lokasi dari fasilitas-fasilits pendidikan yang terbesar di propinsi ini, termasuk Sto. Dominican College (12), yang berdekatan dengan gereja Basco. Juga dekat dengan gereja yang terletak di rel yang besar di daerah ini dimana Barangay San Antonio berawal, yang merupakan bangunan yang luas di sekolah tinggi "Nasional", dua sekolah dasar dan Sekolah untuk Kesenian dan Perdagangan (15).

Masyarakat Batanes dengan mengejutkan mereka tertarik dengan pendidikan. Tentu saja, untuk mencari pekerjaan diluar daerah surga mereka sendiri, mereka harus berkualitas. Tetapi bukan itu saja. Pendidikan juga memberikan kepada mereka sesuatu untuk dilakukan. Walhasil, masyarakat Batanes sangat membanggakan angka kepintaran mereka sebanyak 93 %. Dan bahkan nenek-nenek mereka telah mengambil kursus-kursus setingkat universitas yang ditawarkan melalui sekolah malam.

Pada hari-hari penerbangan beberapa penduduk berjalan-jalan ke taman -seperti bandara yang terletak di ujung kota, mereka hanya ingin bermasyarakat dan mengenal salah satu dari daftar-daftar tempat piknik dengan payung-payung rerumputan cogonnya dan menunggu pesawat tiba, walaupun disaat mereka tidak mengharapkan para pengunjung.

Dikarenakan pulau-pulau kecil itulah setiap orang saling mengenal dengan yang lainnya, pada kenyataannya hampir setiap orang saling berhubungan, para pendatang baru dengan cepat dapat dibedakan dan diawasi, khususnya pada saat kedatangan mereka di bandara. Biasanya ada seseorang yang cukup berani mendekati pengunjung. Jika tidak, satu pertanyaan saja sudah merupakan syarat untuk bersahabat dan beramah tamah, yang mana kemudian masyarakat tersebut menawarkan pertolongan ataupun pendamping.

Walaupun ini sedikit memiliki kekurangan yaitu mereka saling mengetahui antara bisnis yang satu dengan bisnis yang lainnya, kota kecil yang memiliki keakraban ini telah menolong dan menjaga suku Batanes dari kejahatan yang masih bebas dan sering terjadi. Walaupun pemakaian alkohol relatif tinggi , khususnya selama musim hujan yang panjang, pada dasarnya masyarakat setempat tetap " Jujur dan bekerja keras".

Rumah-rumah jarang terkunci terkecuali selama terjadinya angin taufan, dan tempat ini aman untuk berjalan seorang diri pada malam hari. Umumnya masyarakat disini tidur pada jam 22:00, sebagian dikarenakan hari mereka dimulai pada pukul 5:00, dan sebagiannya lagi dikarenakan bekerja diluar Basco, listrik ada hanya dari pukul 18:30 hingga 21:30.

Walaupun pendapatan mereka jauh dibawah rata-rata standart nasional, namun tidak satupun dari mereka yang mati kelaparan atau tidak memiliki rumah. Mereka lebih baik dari pada para penduduk kota yang miskin (yang memiliki gaji lebih tinggi) karena masyarakat Batanes masih memiliki lahan, dan dapat menggantung diri dari lahan tersebut untuk penghidupan mereka. Sebenarnya ini membuat mereka bebas merdeka - merdeka dalam arti bebas dari biaya makanan dan kediaman yang tinggi yang sering membelenggu kehidupan bagi mereka yang hidup di kota tanpa tanah perkebunan.

Namun beberapa penduduk setempat merasa sedih dalam mengatasi kehidupan di Batanes yang keras. Disana transportasi kendaraan bermotor terbatas; beberapa tempat tidak memiliki fasilitas air leding dan toilet didalam rumah, dan tidak juga telpon, televisi maupun kehidupan malam (0).

Tetapi mereka mengganggap ada hal yang lebih penting, yaitu disana tidak terdapat NPA (pemberontakan), keresahan sosial, polusi industri, kekurangan air juga tidak terdapat masalah yang berarti yang membuat kehidupan menjadi lebih mudah, tidak seperti kehidupan di kota yang bahkan lebih keras. Dan jika mereka pernah mengalami polusi udara di Manila dan lalu lintas yang sangat sibuk, agaknya mereka akan merasa gembira dengan kebebasan mereka berjalan diatas jalan (daerah) mereka sendiri yang bebas dari itu semua.

Selama serangan-serangan mendadak di Manila, Angkatan Kepolisian Philipina setempat (17) hanya menghabiskan hari-hari mereka seperti hari-hari biasa yang selalu mereka lakukan seperti : bermain bola basket dan tidur-tiduran. Penjagaan keamanan dan menentramkan Batanes memberikan mereka sedikit tugas.

Ciri khas politik kota-kota kecil di Batanes terjadi sebelum pemilihan gubernur. Sebagai pengganti panggilan nama yang biasa dan fitnahan yang datang, beberapa kandidat di Batanes datang dari rumah ke rumah secara bersama-sama untuk menemui para pemberi suara.. Masing-masing kandidat menjelaskan perannya, setelah itu, seorang kandidat mengundang pemilih suara yang memilih lawannya dengan baik dan ramah, begitu juga kandidat lainnya melakukan hal yang sama. Tentu saja, kenyataannya bahwa para kandidat yang bersangkutan memiliki sesuatu untuk dikerjakan yang berhubungan dengan genelitas mereka; keluarga Castillejos telah memegang kekuasaan secara politik untuk beberapa generasi.

Bertani, memancing, berternak lembu, babi, serta peternakan lainnya dan beberapa unggas menjadi sumber utama penghidupan bagi masyarakat Batanes. Bawang putih dan lembu menjadi export utama.

Walaupun kesanggupan mereka hanya sedikit untuk mengekspor lembu, namun hampir setiap keluarga menanam bawang putih sebagai sebuah tanam panen yang menghasilkan. Harga bawang putih yang tinggi di Philipina telah membuat bisnis ini menjadi bisnis yang menguntungkan.

Pada Awal pemungutan hasil panen bawang putih yang berlangsung pada bulan Pebruari sampai April, harga bawang putih sangat jatuh dari harga yang tinggi dari 195 peso/kilogram turun sampai 30 peso/kilogram. Hasil panen tersebut diangkut dari Batanes ke Luzon oleh sebuah kapal tangki yang mendarat yang digunakan untuk pengangkutan muatan antar pulau.

Untuk memenuhi lonjakan permintaan akan bawang putih, banyak bagian-bagian lahan yang luas dirubah menjadi lahan untuk bawang putih yang biasanya dipelihara untuk memperoleh hasil panen yang dapat memenuhi kebutuhan hidup. Seperti para petani bawang putih yang datang dari utara jauh di kepulauan, mereka juga percaya dan yakin bahwa sebenarnya terdapat bawang putih import illegal yang datang dari Taiwan, dan menduga adanya kompetisi yang tidak wajar dengan para petani lokal.

Apakan ini benar atau tidak, namun produksi bawang putih di Batanes telah meningkat begitu pesat, dan kapal tangki sekali-sekali membuat suatu perjalanan khusus keluar pulau Batan menuju ke Itbayat hanya untuk mengambil muatan mereka saja.

Perdagangan bawang putih yang hasil panennya untuk memenuhi kebutuhan hidup telah menempati urutan kedua dalam produksi tanaman panen akar-akaran seperti singkong. Bersama-sama dengan beras, mereka (bawang putih) juga merupakan bahan pokok yang utama yang dibutuhkan untuk persediaan selama musim badai (topan) ketika angkutan-angkutan umum yang datang dari luar daerah tidak dapat masuk dan mendarat.

Ini juga ancaman yang membuat penduduk awam lebih bergantung pada makanan kaleng daripada sebelumnya dan produk-produk impor lainnya yang tiba di Batanes meskipun harga ecerannya di Manila dua kali lipat lebih mahal, dengan demikian mereka dengan cepat menghabiskan dua kali lipat pendapatan extra yang diperoleh dari peralihan panen.

Dalam peningkatan hasil panen bawang putih dan hasil panen akar-akaran, banyak keluarga menanam beberapa sayur-sayuran dan buah-buahan seperti nenas, pisang, pepaya, nangka, semangka dan bahkan jeruk. Tetapi walaupun buah-buahan ini dapat tumbuh dengan baik di pulau-pulau ini, namun produksi perniagaan akan sangat berisiko, seperti seluruh panen akan dengan mudah hilang dan rusak hanya dengan sekali badai yang datang menghantam setiap tahun.

Lebih lanjut lagi, dikarenakan oleh tuntutan pertanian yang cukup banyak di lahan tersebut tanpa perlengkapan nutrisi yang cukup , maka tanah tersebut telah menjadi kurang menghasilkan. Masyarakat mengatakan bahwa ubi rambat dulunya bisa tumbuh seukuran semangka. Menurut dugaan bahwa tanah-tanah di Bureau telah mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki dan memelihara kesuburan tanah.


Sebahagian dari lahan tersebut telah menjadi subur, laut-laut kaya akan sumber-sumber kekayaan lautnya. Bukti dari ini adalah banyaknya dengan apa yang disebut Taiwanese junks, Para pemukat modern yang kuat berhilir mudik di laut yang terbuka pada siang dan malam hari dan mendapatkan hasil tangkapan yang banyak.


Dengan perbandingan yang sangat mencolok, para nelayan Batanes setempat dengan kapal-kapal sederhana mereka yang terbuat dari kayu dan jala-jala kecil bisa menempuh bahkan sampai beberapa kilometer yang dilakukan untuk melakukan tangkapan untuk sekedar menyambung hidup. Memancing adalah hal yang sangat sulit bagi para penduduk lokal disebabkan karena mereka hanya memiliki kapal-kapal kecil yang hanya bisa mengemudikan kapal-kapal mereka dengan aman di kanal-kanal diantara pulau-pulau tersebut. Sementara diluar kanal-kanal tersebut angin membuat laut menjadi sangat ganas.


Selanjutnya Mengenai Batanes :

- Iklim
- Pulau Batan
- Pulau Sabtang
- Pulau Itbayat
- Penginapan
- Komunikasi
- Transportasi

This page : http://www.asiamaya.com/panduasia/philipina/e-09bata/ep-bat10.htm
Copyright Asiamaya.com 2000
PT Asiamaya Dotcom Indonesia