asiamaya.com - optimized for cell phone and PC browsing

HOME

PEMBAGIAN RUMAH DAN TANAH

Pertanyaan:

Sewaktu saya masih bujangan, saya membangun rumah diatas tanah milik orang tua saya. Setelah saya dan saudara-saudara saya menikah, terjadi ketidakcocokan antara orangtua, dan saudara-saudara (kakak maupun adik saya) karena rumah tersebut saya tinggali bersama isteri dan anak-anak. Rumah itu akan saya jual dan hasilnya akan saya bagi dua dengan pembagian separuh untuk orangtua dan separuhnya untuk saya. Apakah pembagian tersebut cukup baik dan adil ?

Syamsul

 

Jawaban:

Dilihat dari kasus Anda, tanah itu diberikan atas dasar persetujuan orangtua untuk memakai tanah dan bukan untuk diberikan kepada anda sebagai warisan, hal ini lazimnya disebut dengan "Hibah" atau penghibahan.

Hibah menurut Kompilasi Hukum Islam (Pasal 171 huruf g) yaitu: "Pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki". Penghibahan yang dilakukan orang tua kepada anaknya dalam hal tertentu dapat diperhitungkan sebagai warisan (Pasal 211 Kompilasi Hukum Islam). Hal ini dipertegas dalam Pasal 212 Kompilasi Hukum Islam Hibah tidak dapat ditarik kembali, kecuali hibah orang tua kepada anaknya. Mengenai hal ini Kompilasi Hukum Islam tidak memberi patokan secara jelas kapan suatu hibah kepada anak diperhitungkan warisan.

Secara kasuistik dapat dikemukakan di sini beberapa patokan, antara lain:

1. Harta yang diwarisi sangat kecil, sehingga kalau hibah yang diterima salah seorang anak tidak diperhitungkan sebagai warisan, ahli waris yang lain tidak memperoleh pembagian waris yang berarti.

2. Penerima hibah hartawan dan berkecukupan, sedang ahli waris yang lain tidak berkecukupan, sehingga penghibahan itu memperkaya yang sudah kaya dan memelaratkan yang sudah melarat. Oleh karena itu pantas dan layak untuk memperhitungkannya sebagai warisan.

Masalah apakah orang tua boleh atau tidak menarik hibah yang diberikan kepada anak secara kasuistik ada yang berpendapat boleh dan ada yang berpendapat tidak boleh. Kompilasi Hukum Islam sendiri berpendapat membolehkan penarikan secara kausistik misalnya, anak penerima hibah sama sekali tidak memperdulikan kehidupan orangtua yang sudah tua dan miskin. Sedang kehidupan anak berkecukupan. Atau penarikan didasarkan atas hibah bersyarat. Umpamanya dalam perjanjian penghibahan ada ditentukan syarat bahwa anak penerima hibah akan mengurus dan menanggung kehidupan orangtua selama hidup. Ternyata hal itu tidak dipenuhi si anak. Dalam hal ini penghibah dapat menarik kembali hibah.

Sedangkan menurut KUH Perdata/BW Pasal 1668, pada asasnya hibah tidak dapat ditarik kembali maupun dihapuskan, kecuali:

1. Tidak dipenuhinya syarat-syarat dengan mana hibah telah dilakukan;

2. Jika penerima hibah telah bersalah melakukan atau membantu melakukan kejahatan yang bertujuan mengambil jiwa si penghibah;

3. Apabila si penerima hibah menolak memberikan tunjangan nafkah kepada si penghibah, setelahnya si penghibah jatuh dalam kemiskinan.

Berdasarkan uraian di atas, dihubungkan dengan kasus anda maka jelas bahwa jika tanah dan rumah itu akan dijual, terlebih dahulu meminta izin orang tua apakah mereka menyetujui niat untuk menjual rumah dan tanah itu. Jika memang rumah dan tanah itu diizinkan untuk dijual, dari hasil penjualan tersebut anda mendapatkan bagian seharga rumah yang telah anda bangun sedangkan orang tua mendapat bagian seharga tanah.

Kakak dan adik-adik anda, tetap berhak mendapatkan bagiannya masing-masing dari hasil penjualan tanah orang tua sebab mereka juga merupakan ahli waris.

Pada dasarnya mengenai hibah ini apa yang diatur dalam Kompilasi Hukum Islam hampir sama nilai-nilai normanya dengan yang terdapat dalam Hukum Adat dan KUHPerdata.


***

To pay by credit card and use a conventional payment processor (no discount), click the WorldPay or CCNow button.

This page: http://www.asiamaya.com/konsultasi_hukum/warisan/pembag_rumah.htm
Copyright © Dan Kardarron
333 Srinakarin Roads
Nongbonsa
Bangkok, 10250
Thailand