asiamaya.com - optimized for cell phone and PC browsing


HOME


PEMBAGIAN HARTA AKIBAT PERCERAIAN


Saya dengan istri saya terus menerus terjadi perselisihan. Perselisihan ini timbul akibat isteri saya selingkuh dan sudah berulang kali pergi dengan laki-laki itu tanpa izin saya. Jika isteri saya itu saya cerai bagaimana dengan harta yang didapat selama perkawinan.

1. Apakah isteri saya tetap mendapatkan hak terhadap harta yang kami miliki.

2. Apakah boleh harta yang kami miliki itu langsung saya hibahkan kepada anak saya, sehingga saya ataupun isteri saya tidak lagi memiliki hak terhadap harta itu?

ar - jatim

Jawaban :

Mengenai harta benda dalam perkawinan, pengaturan ada di dalam pasal 35 UUP dan dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

1. Harta bersama, yaitu harta benda yang diperoleh selama perkawinan dan dikuasai oleh suami dan istri dalam artian bahwa suami atau istri dapat bertindak terhadap harta bersama atas persetujuan kedua belah pihak. Apabila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. Yang dimaksud "hukumnya" masing-masing adalah hukum agama, hukum adat, dan hukum-hukum lain (pasal 37 UUP).

2. Harta bawaan, yaitu harta benda yang dibawa oleh masing-masing suami dan istri ketika terjadi perkawinan dan dikuasai oleh masing-masing pemiliknya yaitu suami atau istri. Masing-masing atau istri berhak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya (pasal 36 ayat 2 UUP). Tetapi apabila pihak suami dan istri menentukan lain, misalnya dengan perjanjian perkawinan, maka penguasaan harta bawaan dilakukan sesuai dengan isi perjanjian itu. Demikian juga apabila terjadi perceraian, harta bawaan dikuasai dan dibawa oleh masing-masing pemiliknya, kecuali jika ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.

3. Harta perolehan, yaitu harta benda yang diperoleh masing-masing suami dan istri sebagai hadiah atau warisan dan penguasaannya pada dasarnya seperti harta bawaan.

Berdasarkan uraian di atas apabila dikaitkan dengan kasus Anda maka istri Anda mempunyai hak atau berhak atas harta yang diperoleh selama perkawinan berlangsung tanpa melihat alasan-alasan yang diajukan dan harta tersebut disebut harta bersama.

Mengenai hibah terhadap anak dapat saja dilakukan tetapi tanpa penghibahanpun seorang anak secara otomatis sudah menjadi ahli waris dari kedua orang tuanya.

Hibah dapat dilakukan jika tidak merugikan apa yang menjadi hak dari ahli waris, disamping itu istri Anda juga berhak atas harta warisan tersebut.

 

HOME